Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2025

Lapangan Kerja atau Kuburan Rakyat? Janji yang Membunuh Harapan

Selamat datang di teater kejam bernama Indonesia 2025. Di panggung ini, ada janji manis 19 juta lapangan kerja yang dulu pernah bergema dari mulut sang Wakil Presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka. Janji yang katanya akan menghadirkan 5 juta “green jobs” yang ramah lingkungan seperti oasis harapan di gurun pasir suram ekonomi. Tapi, seperti dongeng buruk yang kita tahu akhirnya, kenyataan berkata lain. Janji itu tak lebih dari ilusi, fatamorgana yang memabukkan sebelum kita terperosok ke jurang kemiskinan dan pengangguran yang semakin dalam. Neraka Pengangguran dan PHK yang Makin Membludak Data BPS menunjukan bahwa Februari 2025, pengangguran melonjak jadi 7,28 juta jiwa. Itu artinya, jutaan orang yang mencari pekerjaan malah diperlakukan layaknya angka statistik yang diabaikan. Kenaikan 1,11 persen dibanding tahun lalu? Seolah menyambut kita dengan “Selamat datang di neraka!” IMF pun ikut menyebarkan kabar suram: Indonesia kini menjadi negara berkembang dengan tingkat pengangguran...

Mati Perlahan di Meja Kerja: Karyawan Jadi Korban Keserakahan Perusahaan

Selamat datang di dunia bisnis modern, tempat di mana gedung-gedung tinggi berkilauan memamerkan kejayaan yang tampak gemilang dari kejauhan, seolah menjadi kuil kemakmuran bagi masyarakat. Logo-logo megah menghiasi fasad bangunan, menutupi bau busuk yang menetes di setiap sudutnya, seakan-akan cat tembok yang baru saja menutupi dinding berlumut. Di balik kemewahan, jargon "corporate responsibility," dan poster motivasi bertema kebersamaan, kenyataannya banyak perusahaan yang lebih pantas disebut monster ketimbang organisasi profesional. Mereka membungkus wajah mereka dengan topeng kebaikan dan tanggung jawab sosial, lengkap dengan kata-kata manis seperti “komitmen terhadap kesejahteraan pekerja,” “pelestarian lingkungan,” dan “komunitas yang berdaya.” Namun, di balik semua itu, tangan-tangan kotor mereka mencengkram erat realita yang begitu pahit bagi banyak orang: jam kerja yang kejam, upah yang jauh dari layak, kebijakan yang lebih cocok diterapkan di penjara daripada di ...