"Ada versi videonya nggak?"
Satu kalimat sederhana yang sering mampir di kolom komentar. Kadang lewat DM. Kadang bahkan dari teman sendiri.
Lucu ya, kita hidup di zaman ketika membaca dianggap lebih melelahkan daripada menonton seseorang berbicara dengan background music dan subtitle manis.
Tapi Kenapa Bukan Video?
Jawabannya mudah.
Karena isi kepala saya tidak bisa diringkas dalam 15 detik.
Bukan karena nggak bisa bikin video, tapi karena tidak semua gagasan cocok ditampilkan dalam bentuk gerak dan suara.
Beberapa hal seperti luka yang tidak terlihat, keresahan yang tidak terucap, atau rindu yang terlalu personal lebih aman disampaikan lewat tulisan.
Tenang. Pelan. Mendalam. Tanpa takut disalahartikan oleh ekspresi atau tempo musik yang salah.
Menulis Itu Cara Bertahan
Saya menulis bukan karena ingin viral.
Bukan juga karena kehabisan cara cari perhatian.
Saya menulis karena ada yang harus dikeluarkan dari kepala,
sebelum meledak jadi kemarahan yang tidak perlu,
atau jadi kepedihan yang nggak sempat diungkapkan.
Tulisan, bagi saya, adalah ruang teduh.
Tempat saya kembali.
Tempat saya jujur.
Kalau Kamu Tidak Mau Membaca…
It’s okay.
Scroll aja. Saya tidak akan tersinggung.
Saya menulis bukan untuk menyenangkan semua orang.
Saya menulis karena ini satu-satunya cara saya tetap waras,
di dunia yang terlalu cepat, terlalu keras,
dan kadang terlalu bising dengan hal-hal yang sebetulnya tidak penting.
Jadi, untuk kamu yang masih bertanya,
"Kenapa nggak dijadiin video aja sih?"
Jawabannya sederhana:
Karena tulisan ini bukan tontonan.
Ini adalah potongan isi kepala saya.
Dan saya rasa, ia lebih layak dibaca.
"Tulisan ini tidak punya efek transisi, musik latar, atau ekspresi dramatis. Tapi mungkin, jika kamu bersedia membaca sampai akhir ada sesuatu yang terasa lebih nyata dari sekadar visual."
Komentar
Posting Komentar