Kita hidup di era ajaib.
Di mana orang bisa bangun tidur, buka kamera, ngomong satu menit, dan boom!—dengan percaya diri bilang, “Gini lho seharusnya hidup!” atau “Ilmuwan tuh suka ribet, padahal solusinya simpel.”
Ya, benar sekali.
Selamat datang di zaman ketika suara paling keras lebih dipercaya daripada riset bertahun-tahun.
Mau bikin orang percaya kamu ahli?
Nggak perlu kuliah.
Nggak usah baca buku.
Apalagi ngerjain jurnal tebal.
Cukup lighting bagus, intonasi percaya diri, dan tambahkan sedikit bumbu "menentang arus."
Voilà! Kamu sekarang influencer pemikiran.
Sementara itu…
Di pojok sunyi sana, ada orang-orang yang meneliti.
Mereka ngetik ratusan halaman skripsi, tesis, disertasi.
Mereka ikut seminar, riset lapangan, debat ilmiah, dan revisi berkali-kali.
Tapi sayangnya… views mereka tidak cukup menghidupi algoritma.
Dan memang, siapa sih yang peduli sama orang yang kerja diam-diam tanpa drama?
Karena begini logikanya:
Kenapa harus baca penelitian 5 tahun,
kalau bisa percaya video 45 detik dari orang yang ngomong sambil ngopi?
Kenapa harus cross-check data,
kalau bisa langsung share konten yang “kerasa bener di hati”?
Kadang lucu, kadang miris.
Bahkan iklan pemerintah pun sekarang dibuat pakai AI.
Kenapa bayar mahal ilustrator kalau bisa minta tolong ke robot?
Iya sih, hemat.
Tapi rasanya kayak nonton teater tapi aktornya boneka geraknya ada, jiwanya nggak.
Ini bukan nyinyir. Ini kenyataan.
Bahwa di zaman ini, otentisitas bisa kalah sama estetika.
Logika bisa kalah sama narasi yang lebih "catchy."
Dan ya, riset bertahun-tahun bisa dikalahkan
oleh omongan viral yang nongol di explore.
Jadi harus gimana? Menyerah?
Nggak.
Tetap nulis. Tetap meneliti. Tetap bikin konten yang masuk akal.
Karena kita nggak bikin buat viral. Kita bikin biar waras.
Biar waras di tengah dunia yang lebih suka sensasi daripada substansi.
Penutup? Sederhana.
Besok kalau kamu lihat video yang bilang,
“Peneliti tuh terlalu lebay, harusnya simpel aja...”
Ingat: yang kelihatan simpel kadang disederhanakan secara brutal,
dan yang viral belum tentu masuk akal.
Karena yang pelan belum tentu kalah,
dan yang diam belum tentu bodoh.
Komentar
Posting Komentar